Guru Kita Lebih Sayang Dengan Murid WNA

Sudah lama tidak ngobrol-ngobrol dengan salah satu senior yang telah lama bekerja di dunia anak, bahkan dibilang sangat lama.

Miss “U” yang namanya tidak mau saya sebutkan di dalam post saya ini, banyak bercerita kekecewaannya terhadap para pengajar di negara ini. Beliau menyatakan betapa rendahnya penghargaan employer terhadap employenya untuk mengajarkan pendidikan ke anak-anak dan betapa carut marutnya dunia pendidikan anak di Indonesia (Udah dari dulu kaleeeeeee).

Tapi post ini tidak akan membahas tentang kualitas pendidikan, ataupun berapa gaji yang diterima karyawan guru dari sebuah sekolah, tetapi lebih ke persepsi akan proses belajar anak Indonesia dengan anak luar negri.

Kenapa?

Begini ceritanya…

Banyak orang tua yang berprinsip bahwa sekolah Internasional lebih baik daripada sekolah swasta ataupun negri.

“Secara fasilitas, iya memang benar sekolah internasional fasilitasnya jauh lebih lengkap daripada sekolah lain, lihat saja dari harganya. Mau kualitas? harga juga tinggi lah, itu kan ilmu ekonomi dasar… tapi secara mutu pendidikan, belum tentu, apalagi di Indonesia, banyak sekolah basis Internasional yang kurikulumnya belum mendapatkan akreditasi sah… Malahan setiap hari, guru disuruh buat lesson sendiri, acuan ada, tapi execution di kelas, gurunya harus menyiapkan sendiri dibantu assisten… hmmmm… benar-benar tidak siap dibilang sekolah Internasional…”

Banyak guru berprinsip bahwa anak bule pemikirannya lebih cerdas daripada anak Indonesia

“Ada faktor budaya dan habit disini, anak bule dibiasakan bebas berbicara sedari kecil, mereka bebas banyak bertanya, nalar mereka menjadi lebih tajam dan pengetahuan yang mereka telan akhirnya banyak, karena dari kebebasan bertanya itu. Mereka tidak takut untuk menggali ilmu dan berpikir kritis, karena sedari kecil mereka diberikan kebebasan untuk execute their own action tapi tentunya dalam pengawasan yang tepat… Selain itu dari kecil, stimulasi yang mereka terima secara fisik dan psikis juga beda dengan anak-anak Indonesia.

Contohnya lihat ruangan kelas mereka, dipenuhi dengan warna warni, banyak mind-games yang bisa memacu cara berpikir mereka. Semua ini bisa menstimulasi berpikir anak menjadi lebih baik lhooo…

Coba lihat anak Indonesia, dari kecil mereka dituntut untuk diam, tidak boleh banyak tanya, tidak boleh banyak gerak, duduk di bangku, silangkan tangan kalau tidak dihukum… peraturan semacam ini masih banyak saya lihat di sekolah-sekolah, bahkan masih ada yang dihukum berdiri dekat papan tulis… Keseringan yang saya lihat adalah kalimat yang dilontarkan guru adalah menyudutkan si anak, sehingga anak takut untuk bertanya, malu untuk berkreasi, malas untuk aktif… “

Tapi itu semua kan tergantung harga bayaran sekolahnya, kalau murah, ya kelasnya jelek, fasilitas kurang, kualitas guru mengajar juga standard saja, bukannya begitu?

“Enggak lah, ada kok sekolah yang berdiri karena donasi para milyuner, sekolah murah, sistem edukasinya sudah lengkap, walaupun gedungnya biasa saja, beberapa saya temui di Tangerang seperti ini. Di Bali juga ada, bahkan mereka sekolahnya gratis, terserah orang tua muridnya saja mau menyumbang biaya sekolah berapa…

Buat saya, kunci utama ada di guru…

Dahulu saya punya rekanan, dia orang Filipina, sekarang dia mengajar di sekolah Internasional terkenal di Jakarta, salah satu sekolah yang suka meng-hijack pekerja dari sekolah-sekolah bagus, bahkan meng-hijack sistem pengajaran IT juga, tidak perlu saya sebutkan nama sekolahnya.

Rekan saya ini berprinsip anak-anak Indonesia itu bodoh, dia dan teman-teman Indonesia saya lainnya bisa serta merta memandang rendah anak-anak kita. Padahal in the end, dari sekian puluh anak-anak murid, semua yang berada di ranking atas itu adalah anak-anak kita, semua project yang diberikan oleh guru diselesaikan oleh anak-anak ini. Lain halnya dengan anak bule yang mereka bangga-banggakan itu, project mereka tidak ada yang selesai, kalaupun selesai, mereka ada di ranking 10 kebawah. Kalaupun selesai, itu karena dibantu oleh guru-guru… Kalau mereka sadar, sebenarnya yang membuat kemajuan anak kita sedikit lebih lamban karena faktor komunikasi, beda bahasa… tapi kalau cerdas saya yakin benar, anak kita lebih cerdas… karena kita dibiasakan bisa berkembang dan maju dengan fasilitas yang minim… kalau anak bule itu harus ada fasilitas yang lengkap dulu baru bisa berkembang… “

Hmmmm… jadi teringat dahulu sewaktu saya mengajar piano di rumah salah satu Embassy dari German di Menteng, guru bahasa Inggrisnya adalah orang kita yang lama tinggal di UK, dia mengajar bahasa Inggris anak bule German ini sebelum jam les piano saya. Sewaktu saya tawari dia untuk mengajar di rumah murid saya yang lain, karena murid saya ini  mau pindah sekolah ikut bapak tirinya ke Canada, dia sudah ogah-ogahan duluan. Terakhir saya tanya kenapa sih kok gak mau, saya ingat dia jawabnya “saya malas ngajar orang kita,  bisa darting… ” 8O

“Satu faktor saya mengerti, mereka lebih pilih orang asing karena bayarannya dalam bentuk dolar, ketimbang orang kita pakai rupiah dan ratenya lebih rendah… tapi yang saya maksud dari segi perlakuan yang saya sering lihat tidak wajar ya itu… support ke anak kita tidak sama dengan ke anak bule… somehow, mereka melihat anak bule itu lebih bright, smart dan hebat… saya gak habis pikir kenapa bisa begitu…”

Mungkin karena mata anak-anak bule yang berwarna biru? rambut yang coklat dan kulit yang super putih? :P

Mungkin murid bule sebagai kelompok minoritas lebih terlihat menonjol daripada anak-anak kita kelompok mayoritas?

Mungkin guru-guru ini merasa keren dan hebat kalau bisa ada anak bule yang dekat dengan dia?

“Saya tidak meminta untuk guru-guru membenci anak bule, tapi saya ingin, rasa kebersamaan, kedekatan dan porsi mengajar ke anak-anak kita seharusnya sama dengan yang kita ajarkan ke murid asing, tanpa ada perbedaan sama sekali… dan saya ingin sekali persepsi guru-guru terhadap murid bule yang lebih pintar, dihilangkan… please…  yang membuat mereka pintar bukan karena mereka bule, atau asalnya dari negara mana… tapi bagaimana kita sebagai guru mendidik mereka… If you believe they can be a big person, they will be a big person, even bigger…

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
Guru Kita Lebih Sayang Dengan Murid WNA, 10.0 out of 10 based on 1 rating
Related Posts with Thumbnails
Share and Enjoy:
  • Technorati
  • del.icio.us
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • BlinkList
  • Diigo
  • Google Bookmarks
  • LinkedIn
  • Netvibes
  • Tumblr
  • Mixx
  • NewsVine
  • Ping.fm