Pernah bertemu dengan seorang “stranger” yang ramah dan baik hati?
Maksud saya, baru saja berkenalan dengan orang tersebut (di siang hari bolong lagi), tetapi orang tersebut dengan tangan terbuka mau mengantarkan ke berbagai lokasi pemotretan tanpa minta imbalan apapun bahkan malah mentraktir makan siang dan membukakan rumahnya dengan pintu yang lebar? Luar biasa ya?
Kemarin perjalanan saya yang tidak direncanakan ke daerah Tangerang, membuat teman saya penasaran dengan salah satu gang di Jl. Otto Iskandar Muda, Pasar lama, Tangerang. Tadinya saya sudah tidak mau ikutan masuk ke gang itu, ternyata saya menemukan sebuah kelenteng yang bagus, bernama Kongco Sam Po Tay Jin dan kebetulan sekali pemiliknya sedang ada di kelenteng tersebut.
Menurut dari beberapa cerita temannya, ia adalah anak bersaudara 9 dari seorang bapak yang namanya cukup terkenal di komunitas Chinese di Tangerang. Ia di wariskan oleh sang bapak; pendiri kelenteng Kongco Sam Po Tay Jin di Thn 60-an; Kongco Ang Tjoan, ahli pijat, membangun kelenteng ini dengan cara tanpa memungut biaya sama sekali hingga hari ini. Ci Lian; pemilik kelenteng yang sekarang pun juga mengikuti jejak bapaknya.
Dengan keramah tamahannya ia memberikan kami minum dan mengajak kami memotret rumahnya. “Lihat deh gaya rumah saya, serasa di China, wuih mantep deh”. Begitu gaya kerennya Ci Lian mengajak saya ke rumahnya. “Atapnya saya ikutin rumah Thailand, tapi dalamnya, weh, serasa di China, you musti lihat deh, yuk? saya antarin sekalian deh nanti lihat-lihat kelenteng lainnya”
Sesampainya kita ke rumah Ci Lian, memang rumahnya yang seluas hampir 400m persegi terlihat megah dengan Arsitektur modern Thailand. Sedangkan suasana interior di rumahnya bergaya eklektik Chinese yang sudah di sesuaikan dengan bangunan rumah modern.
Kesan pertama yang saya rasakan begitu masuk ke rumah Ci Lian, adalah menyenangkan saya serasa berjalan-jalan ke satu taman bermain dengan gazebo yang lucu dan cantik di belakang rumahnya, di situ juga bisa berenang kalau mau. Sedangkan, sewaktu saya naik ke lantai 2 atau 3 di rumahnya saya serasa melewati tangga di kayangan para dewa-dewa, melewati jembatan dan melangkah diatas awan. Soalnya kalau di film-film Chinese yang saya lihat tangganya miripĀ
perasaan saya happy.
Detail-detailnya pada pintu dan mural di rumah ini juga tidak boleh dianggap enteng. Lihat saja ukiran burung Onyx dan Naganya. Semua ukiran yang ada di rumah Ci Lian mengandung arti dan makna penting. Semua kayu yang digunakan berbahan Jati, dari pintu hingga lemari pakaian, bahkan lemari bar kecilnya. Teralis ukir bergaya Thailand juga terpasang diseluruh jendela rumahnya.
Memang kalau orang baik, rejeki baik pula, mungkin Tuhan melihat kebaikkan ia mendirikan beberapa tempat peribadatan dengan sukarela, hal iniĀ membuat bisnisnya di bidang garment sukses besar. Ci Lian ini adalah supplier garment ke ITC dan Matahari.
ckckck…
“Kalau saya ada rejeki sih saya mau buat kelenteng yang besar dan megah di Tangerang, ya kalau ada rejeki” senyum Ci Lian.
Luar biasa!











